This is default featured slide 1 title

You can completely customize the featured slides from the theme theme options page. You can also easily hide the slider from certain part of your site like: categories, tags, archives etc. More »

This is default featured slide 2 title

You can completely customize the featured slides from the theme theme options page. You can also easily hide the slider from certain part of your site like: categories, tags, archives etc. More »

This is default featured slide 3 title

You can completely customize the featured slides from the theme theme options page. You can also easily hide the slider from certain part of your site like: categories, tags, archives etc. More »

This is default featured slide 4 title

You can completely customize the featured slides from the theme theme options page. You can also easily hide the slider from certain part of your site like: categories, tags, archives etc. More »

This is default featured slide 5 title

You can completely customize the featured slides from the theme theme options page. You can also easily hide the slider from certain part of your site like: categories, tags, archives etc. More »

 

Museum Kereta Api Ambarawa

History – Teak wood – UtilizationSejak tahun 1950 Dinas Kereta Api [DKA] mulai mengganti lokomotif bertenaga uap dengan tenaga diesel; sehingga memasuki tahun 1970 loko uap mulai masuk era barang antik seiring tidak lagi diproduksi oleh pembuatnya di Eropa.

Gubernur propinsi Jawa Tengah bekerjasama Perusahaan Jawatan Kereta Api [PJKA] di daerahnya berinisiatif mengumpulkan loko uap dan menyimpannya di Stasiun Kereta Api Ambarawa – yang dalam era kolonial dikenal dengan sebutan Stasiun Willem II.

Pada akhir tahun 1976, sejumlah 21 lokomotif uap menjadi koleksi museum ini; dengan satu diantaranya – dinilai paling bersejarah perjuangan republik Indonesia – ditempatkan di Monumen Palagan [penanda kepahlawanan perjuangan]; Stasiun Ambarawa resmi berfungsi museum sejak tanggal 21 april 1978.

3 m3 Kayu Jati untuk Jarak 10 Kilometer

 

History – Teak wood – Utilization
Di museum Kereta Api Ambarawa, Jawa Tengah, saat ini tersisa tiga unit lokomotif keluaran tahun 1902 yang masih layak jalan. Tiga mesin uap yang dibuat oleh salah satu pabrik di Jerman itu [Emil Kessler] masing – masing dengan nomor seri B2502; B2503 dan E1060.

Salah satu diantaranya seringkali dipakai – atas pesanan – menarik dua gerbong berkapasitas 90 penumpang: melayani rute wisata kereta api rel bergerigi berjarak dua kali 5 kilometer [pergi dan kembali] antara stasiun kereta api Ambarawa [474 meter diatas permukaan laut] dan stasiun Bedono [711 meter] di kawasan pegunungan berhawa sejuk.

Lokomotif bertenaga uap air itu, setiap kali menjalankan tugas menarik dua gerbong penumpang [masih orisinil berbahan kayu: buatan Belanda] wisata sepanjang trip tersebut [10 kilometer; 489 meter rel bergerigi], memerlukan bahan bakar berupa kayu jati sejumlah tiga meter kubik [3 m3]; dan untuk tahap pemanasan tangki air – waktu tiga tiga jam sebelum start – juga diperlukan 3m3 kayu jati.

Pengalaman Berhemat dengan Kayu Bakar

Dijumpai di sela acara Pelatihan Manajemen Sederhana, Rabu 14 Mei 2008 di Hotel Istana, Ofal Yusuf – produsen makanan ringan – beralamat di Krapyak Kidul Gang III/334 Pekalongan, bertutur ihwal pengalamannya menggunakan kayu bakar. {Pelatihan Manajemen tersebut digelar oleh Dinas Perdagangan Provinsi Jawa Tengah bekerjasama dengan Dinas Perdagangan, Perindustrian dan Koperasi Kota Pekalongan, kepada para pedagang yang berjualan di pasar}

“Dengan minyak tanah, untuk pemakaian tungku selama 24 jam nonstop saya memerlukan 80 liter, sedangkan kalau dengan kayu bakar – untuk kegunaan yang sama – hanya diperlukan 1,5 kubik, sehingga lebih hemat biaya,“ kata penerus bisnis keluarga yang telah berlangsung selama tiga generasi ini.

Hitungan Untung Jati Plus

Diposkan oleh Sugayo J. Adam
Story – Teak forest – ForesterNaskah ini saya cuplikan dari tulisan rekan Herta Pari dan tuan Sadhardjo Siswamartana [keduanya adalah pejabat di Perum Perhutani] dalam salah satu papernya yang bertajuk: “Analisa Finansial Jati Plus Perhutani [JPP] Bonita 5,5”Berikut ini secarik [selengkapnya mungkin saja saya tuangkan pula disini dalam kesempatan lain !] diantara sepanjang-lebar penjelasan dan uraian kedua pakar tanaman jati tersebut [semoga saja beliau berdua merestui, karena salah satu hasil pemikirannya ini mendadak saya comot untuk dipaparkan di Blog ini (?). Daripada sekian lama dibiarkan membeku di meja kumal saya, he..he..he.. SJA]: